Membudayakan Literasi Berpikir Kritis

Dilihat 32 kali

Di tengah banjirnya arus informasi saat ini, kecenderungan masyarakat lebih banyak ingin mendapatkan sesuatu secara instan. Mudahnya mendapatkan informasi dari gawai di genggaman, membuat mereka tidak memahami detail dari informasi tersebut. Bahkan mereka abai kalau informasi yang didapatkan hanyalah berita bohong alias hoaks. Kejelian membaca informasi tereduksi oleh budaya keinginan secara instan.


Akses digitalisasi yang tinggi justru dapat menyebabkan budaya literasi masyarakat menjadi rendah jika tidak diimbangi dengan kecakapan literasi digital yang baik. Fenomena ini terjadi karena penetrasi internet dan gawai yang cepat sering kali hanya mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi secara superfisial (permukaan), bukan meningkatkan kedalaman pemahaman.


Tak bisa dipungkiri konteks digital membiasakan masyarakat membaca informasi secara sekilas, melompat-lompat, dan hanya mencari poin-poin penting. Hal ini menurunkan kemampuan membaca mendalam (deep reading) yang dibutuhkan untuk memahami buku atau analisis yang perlu dipelajari secara komprehensif. Tanpa kemampuan berpikir kritis, kemudahan akses informasi digital membuat masyarakat rentan memercayai dan membagikan berita palsu tanpa melakukan verifikasi atau membaca isi berita secara utuh.


Keterampilan Kunci


Guna menyikapi tereduksinya pembiasaan membaca di tengah-tengah masyarakat, kiranya saat ini diperlukan penguatan kemampuan literasi. Literasi merupakan keterampilan kunci untuk masa depan karena kemampuan literasi yang baik memungkinkan seseorang untuk memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara efektif. Lebih jauh lagi dapat dipahami bahwa literasi merupakan proses pembelajaran yang dilakukan secara komprehensif untuk mengidentifikasi, memahami informasi, berkomunikasi, dan menghitung menggunakan bahan cetak dan tertulis dengan berbagai konteks.


Literasi tidak hanya terkait dengan membaca dan menulis, tetapi juga terkiat dengan memahami, menyaring, dan berpikir kritis. Hal ini merupakan panggilan untuk seluruh elemen masyarakat agar terus menyalakan cahaya pengetahuan di tengah dinamika kehidupan pada saat ini.


Masyarakat juga perlu disadarkan dari awal agar mempunyai daya kritis terhadap berbagai informasi dengan melakukan verifikasi. Upaya verifikasi ini merupakan sebuah bentuk literasi digital. Sebab, sekarang ini banyak teknologi baru yang bisa dengan mudah membuat berita bohong dan informasi palsu di ruang digital (Kompas, 2025).


Ada beberapa cara untuk mengembangkan minat literasi masyarakat, salah satunya adalah dengan adanya perpustakaan daerah. Dalam konteks ini perpustakaan daerah memiliki peran signifikan untuk mengedukasi dan mengelaborasikan atensi literasi masyarakat. Perpustakaan daerah bertujuan agar terus dapat mengembangkan literasi pengetahuan dan informasi kepada masyarakat. Dengan adanya perpustakaan daerah, masyarakat dengan senang hati dapat berpartisipasi untuk memaksimalkan sarana ini untuk menambah wawasan mereka.


Pengelolaan perpustakaan daerah dapat memberikan pengaruh terhadap masyarakat yang berkunjung. Pengelolaan perpustakaan yang baik memberikan dampak baik juga terhadap suasana masyarakat yang berkunjung. Semua pengunjung mendapatkan kesempatan untuk membaca buku yang mereka minati. 


Tindakan membaca disebut membaca estetika dengan fokus ketika perhatian utama pembaca adalah apa terjadi selama membaca. Selama membaca estetika, fokus pembaca perhatian akan tertuju pada pikiran, perasaan, dan sensasi yang dialaminya pada saat itu, sehingga konsentrasi pengunjung lebih terjaga


Pada dasarnya, untuk meningkatkan literasi dalam masyarakat yang pluralis, perpustakaan sebagai pusat informasi dan pengetahuan memiliki peran signifikan. Suasana ruang yang sejuk dan kondusif dengan koleksi buku beragama akan menjadikan pengunjung nyaman untuk lama tinggal di perpusatakaan. Ditambah lagi dengan pelayanan yang representatif akan semakin membantu masyarakat untuk mengelaborasikan keterampilan literasi guna menghadapi dinamika zaman yang semakin kompleks.


Perpusatakaan bukan hanya sekadar tempat untuk mengakses informasi dan mencari referensi, namun di dalamnya dapat menjadi oase dari sumber pembelajaran dinamis yang dapat memberikan pencerahan kepada publik.


Untuk meningkatkan budaya literasi bagi masyarakat luas, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Magelang pada bulan September tahun ini mengadakan kegiatan bazar buku dan festival literasi yang menarik animo masyarakat luas akan pentingnya literasi di era digital ini. 


Berbagai kegiatan yang dimulai dari tanggal 1 sampai 14 September 2026 ini digelar mulai dari bazar buku, penampilan karya literasi, talkshow perpustakaan, workshop read aloud, workshop literasi finansial, workshop gerakan pembudayaan pada kegemaran membaca, serta  workshop pentingnya literasi digital.


Kegiatan tersebut dapat memberikan kontribusi positif kepada masyarakat luas bahwa budaya literasi dapat mencakup aspek kompleks yang tidak hanya berkorelasi dengan kegiatan membaca dan menulis saja, namun juga mencakup aspek sosial, budaya, ekonomi, dan berbagai aspek lainnya yang pada gilirannya dapat untuk meraih kesejahteraan bersama.


Berpikir Kritis


Tidak dapat dipungkiri di saat era digitalisasi merambah dunia kehidupan, kapabilitas untuk membudayakan literasi budaya berpikir kritis perlu dikedepankan. Membudayakan literasi berpikir kritis merupkan proses membiasakan diri untuk tidak menerima informasi secara mentah-mentah, melainkan aktif menganalisis, mengevaluasi, dan merefleksikannya.


Kejelian memilih dan memilah informasi yang valid perlu menjadi pembiasaan. Jangan hanya terpengaruh pada visual atau cover informasi yang kelihatannya menarik namun di dalamnya ternyata hanya mengandung konten ujaran kebencian yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu masyarakat harus cerdas dalam menyikapi sumber informasi tersebut, karena era sekarang ini dengan mudahnya baik secara personal atau kelompok untuk menggunggah informasi ke dunia maya.


Dalam hal ini, literasi sebagai pilar dari kekuatan sumber daya manusia dapat menjadi investasi jangka panjang bagi suatu bangsa. Kapabilitas berpikir kritis dan kreatif merupakan modal dasar kuat. Di samping itu, literasi dapat membangun kecerdasan intelektual dan emosional yang berimbang. Apabila domain tersebut dapat diwujudkan, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuat, karena sumber daya manusia yang dimiliki memiliki kemampuan baik kognisi maupun kedalaman karakternya dalam berpikir kritis dan solutif. 

 

Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd. Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang 🇮🇩 30 hari gotong royong, hasilnya nyata! TMMD Sengkuyung Tahap III TA 2026 di Desa Giri Kulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang resmi ditutup. Jalan cor 500 meter, talud, dan saluran air berhasil diselesaikan 100% untuk mendukung akses dan aktivitas masyarakat. 💪 TMMD bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat kebersamaan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun desa. “TMMD: Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.” 🇮🇩🤝 Semoga hasil pembangunan ini bermanfaat dan terus dirawat bersama demi kemajuan Desa Giri Kulon. #TMMD #magelang24jam #Secang ♬ original sound - kominfomagelang