'Misteri Calon Pengantin Paseso Merapi' Masuk 10 Besar Inovasi Pelayanan Publik 2018

Dilihat 3147 kali
Penilaian 10 besar oleh Tim Indepeden KIPP di Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis (09/08)

BERITAMAGELANG.ID - Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah berada di radius 8 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Desa berpenghuni 2.515 jiwa yang tersebar di 10 dusun tersebut meminang Desa Tamanagung di Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang. Kedua desa itu menjadi sepasang pengantin Paseduluran Ndeso (Paseso) saat terjadi bencana erupsi Gunung Merapi.

"Kita melamar Desa Tamanagung dengan berbagai pertimbangan, diantaranya fasilitas pendidikan, Puskesmas, ruang publik, hingga pasar hewan tersedia memadai," jelas Kepala Desa Ngargomulyo, Yatin, saat menjawab pertanyaan Tim Penilai independen Kompetisi Informasi Pelayanan Publik (KIPP) tingkat Jawa Tengah, Kamis (09/08).

Dia menambahkan, guna mendukung Program Paseso atau Desa Bersaudara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang menyebutnya Sister Village, serta rutin melakukan sosialisasi dan simulasi terhadap masyarakat.

"Kita membuat prosedur tetap (Protap) mulai dari proses evakuasi hingga manajemen data pelayanan pemerintahan desa darurat jika sewaktu-waktu aktivitas Gunung Merapi meningkat," lanjutnya.

Selain rawan terjangan awan panas Merapi, Desa Ngargomulyo juga rawan bahaya terjangan banjir lahar hujan dari Sungai Blongkeng dan Sungai Lamat. Kedua sungai itu berhulu di Gunung Merapi.

Hidup di antara bencana membuat warga Desa Ngargomulyo selalu dinamis. Melalui Anggaran Pemerintah Desa sebesar Rp 37 juta untuk simulasi, warga terus meningkatkan kapasitas dan sarana pendukungnya termasuk pengamanan data penting pemerintahan.

"Kita rutin melakukan sosialisasi. Secara swadaya warga juga memiliki tabungan bencana yang dikelola di tingkat RT. Kita juga menyimpanan aman setiap dokumen penting guna mengantisipasi saat kondisi bencana terjadi agar pelayanan tetap berjalan," paparnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Edy Susanto menegaskan, Program Sister Village ini juga lebih memanusiakan pengungsi dan tetap mengedepankan pelayanan pemerintahan.

"Selain mengurangi resiko jatuhnya korban, Paseso juga memiliki kearifan lokal mengakomodir kebutuhan pengungsi, serta mengurangi konflik antar masyarakat," jelas Edi.

Pemerintah Kabupaten Magelang menjadi fasilitator dalam program Sister Village untuk desa-desa yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) Merapi dengan desa lain yang dianggap aman untuk mengungsi.

"Selain Desa Ngargomulyo, ada sejumlah desa di KRB III juga telah menjalankan program Paseso karena program itu lebih efektif dan terarah dalam menangani pengungsi," jelasnya.

Ketua Tim Penilai KIPP Jateng 2018, Ngargono, mengungkapkan dari ratusan proposal yang masuk ke panitia seleksi ditentukan 20 judul. Kemudian hasil itu mengerucut ke 10 besar temasuk inovasi 'Misteri Calon Pengatin Passeso Merapi' dari BPBD Kabupaten Magelang. 

"Program Paseso ini lebih spesifik, berbeda dengan daerah lainnya," ungkapnya.

Kehadiran Tim Penilai Independen KIPP ini guna melakukan verifikasi data terkait konsumen pelayanan publik di desa rawan bencana Gunung Merapi ini. Jika dimungkinkan menjadi terbaik, selain mendapat penghargaan, maka program inovasi Sister Village BPBD Kabupaten Magelang akan menjadi program rujukan penanganan pengungsi bencana di Jawa Tengah.

Kabupaten Magelang bersaing dengan 9 kabupaten/kota lainnya termasuk provinsi Jawa Tengah, yakni Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Demak, Kota Surakarta, Kabupaten Pati dan Kota Magelang.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar