Hari Raya Imlek 2026 akan dirayakan pada 17 Februari yang akan datang. Berbagai persiapan untuk merayakan hari besar tersebut sudah disiapkan mulai dari simpul-simpul terkecil sampai terbesar. Perayaan Imlek bukan hanya sekadar tradisi rutin tahunan, di balik perayaan tersebut terkandung momentum penuh makna kultural, spiritual, serta semiotika kuat di tengah kehidupan masyarakat Indonesia dan komunitas Tionghoa secara holistik.
Tahun ini dikenal sebagai Tahun Kuda Api sebagai integrasi dari dua kekuatan yaitu shio (astrologi Tionghoa) Kuda dan elemen Api dalam kalender Tionghoa. Shio Kuda melambangkan spirit tinggi, jiwa mandiri, dan dorongan untuk maju. Lain halnya dengan unsur Api. Unsur api menstimulasi karakter berani, penuh antusiasme, serta dorongan untuk berani mengambil risiko dalam keadaan apapun. Kombinasi ini dipandang sebagai semiotika perubahan besar dan momentum untuk bertindak lebih cepat, akurat, dan jeli dalam kehidupan pribadi maupun profesional (https://s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id).
Tahun Baru Imlek yang setiap tahun diadakan dengan rutin, tidak dapat dilepaskan dari rangkaian agenda pendukung lain yang menyertai sebagai penyemarak acara inti. Di banyak rumah ibadah yang dikenal dengan nama kelenteng, sering dipentaskan beberapa kesenian yang erat korelasinya dengan perayaan tersebut. Di antara banyak kesenian yang ditampilkan, salah satunya adalah wayang potehi sebagai branding dari agenda seni pertunjukan.
Dinamika Zaman
Di balik usianya yang sudah tergolong renta, wayang potehi mengalami pasang surut seiring dengan dinamika zaman kaum perantauan Tionghoa di Indonesia. Wayang potehi ini merupakan pertunjukan tradisional Tionghoa - Indonesia sebagai hiburan rakyat, berupa permainan kantong kain dengan warna cerah yang memerankan tokoh tertentu dan dimainkan secara lincah dengan tangan. Dikenal pula dengan nama Chinese Puppet Show. Ditelisik dari muasalnya, disosialisasikan para pedagang Tionghoa pada abad 17 yang berkembang di kota-kota pesisir Jawa, seperti Semarang, Surabaya dan Jakarta.
Eksistensi wayang potehi ini reputasinya sudah memasyarakat di daratan Cina sejak masa pemerintahan Dinasti Siong Theng (3000 SM). Menurut etimologinya potehi berasal dari poo (kain), tay (kantung), dan hie (wayang). Wayang ini bentuknya berujud boneka dan bahannya terbuat dari kain yang dirajut dengan penuh estetika. Sang dalang akan memasukkan tangannya ke lubang kain dan membuat permainan sebagaimana wayang lainnya.
Seiring dengan migrasi warga Hokkian ke Laut Selatan, wayang ini turut serta berimigrasi. Wayang potehi mula-mula berkembang di Batavia sebagai gerbang masuknya orang-orang Tioahoa di Jawa, baru kemudian tersebar ke daerah-daerah lain. Seperti di Semarang, pertama kali wayang potehi dimainkan pada tahun 1772 dalam rangka pemindahan patung Dewi Welas Asih (Koan Im) di daerah Gang Lombok. Wayang potehi sengaja diundang dari Batavia untuk mengisi keramaian selama dua bulan (David Kwa, 2005).
Cerita Idola
Merunut dari asal kemunculannya, sumber cerita dalan wayang potehi banyak diambil dari sastra klasik Tiongkok, seperti kisah heroik rakyat, kisah legenda, dan roman historis yang familiar di kalangan rakyat. Di beberapa daerah di Pulau Jawa, seperti wilayah Jawa Tengah juga Jawa Timur, pertunjukan ini tidak asing lagi dengan cerita-cerita yang sudah merakyat dan menjadi cerita idola, seperti Sam Kok, Sie Jin Kwie, Sun Go Kong, San Pek Eng Tai, dan sebagainya.
Di masa hiburan televisi belum marak seperti sekarang, pertunjukan wayang potehi sangat ditunggu-tunggu. Terlebih dengan munculnya para tokoh-tokoh idola sebagai pahlawan yang dicintai rakyat sebagai tolok ukur perangai baik dan buruk. Seperti halnya dengan tokoh Patih Sangkuni dari Kerajaan Hastinapura yang memiliki perangai licik dalam wayang kulit di Jawa. Di wayang potehi juga dikenal tokoh Tjo Tjho dalam kisah Samkok (tiga negara) yang memiliki karakter identik seperti Sangkuni karena kelicikannya.
Pemain wayang potehi tidak hanya satu, melainkan dua orang atau lebih. Satu orang sebagai dalang sebagai penyampai kisah atau ceritanya. Satu orang atau lebih sebagai jiju (pembantu dalang). Tugasnya, menyiapkan dan menata peralatan pentas seperti boneka, busana, senjata, dan peralatan panggung yang lain.
Di sinilah terlihat kepiawaian seorang dalang dalam memainkan wayangnya sehingga tampak seperti hidup. Tokoh yang diperankannya bisa bertempur dengan begitu seru, dengan menggunakan bermacam-macam senjata seperti golok, pedang, tombak, dan berbagai senjata bidik lainnya. Mereka saling menusuk, menikam, berkelit, salto berjumpalitan di udara, layaknya cerita silat, tervisualisasi di hadapan penonton yang menyaksikan dengan mata tak berkedip.
Alat musik sebagai pengiring seni pertunjukan ini terdiri dari tong ko (sejenis tambur), piak ko (bilah kayu), ua lo dan sio lo (gembreng besar dan kecil), tua jwee (trompet logam); hian na (rebab); dan gwee khim (mandolin). Adapun pertunjukan diadakan di halaman kelenteng dengan panggung permanen atau bongkar pasang.
Citra Rasa Lokal
Dalam perkembangan selanjutnya, walaupun wayang potehi ini berasal dari kaum migran Tionghoa, namun mereka justru bisa memadukan potehi dengan citra rasa lokal. Misalnya lakon potehi sendiri banyak dipinjam dalam lakon ketoprak (teater tradisional) Jawa, seperti tokoh Lie Sie Bien menjadi Prabu Lisan Pura, Sie Jin Kwie menjadi Jaka Sudira, Kerajaan Thai Toy Tong diubah menjadi Kerajaan Tanjunganom, dan juga nama-nama lain diubah dengan tidak mereduksi substansinya. Keterpadauan dengan budaya lokal yang sering dikenal dengan inkulturasi ini, semakin mempererat kebersamaan di antara warga Tionghoa dan Jawa juga Indonesia pada umumnya yang kini dikenal dengan pembauran (Majalah Gong, No. 67 Thn. 2005).
Pihak kelenteng dan umatnya merasa sangat diuntungkan dengan partisipasi warga di luar komunitasnya. Selain mendapatkan solusi terkait dengan kelangkaan pemain, juga sebagai wujud keterbukaan untuk bisa menerima kelompok lain yang dapat memperkuat kaul ritualnya. Di sinilah dapat terealisasi kerjasama sinergis yang mampu menghapus sekat-sekat perbedaan menjadi satu kesamaan pandang sebagai momentum tepat. Pada saat di mana dua entitas dengan latar budaya berbeda dapat disatukan dalam media seni pertunjukan wayang potehi.
Di samping itu wayang potehi memiliki korelasi kuat dengan perayaan Imlek, mengingat jejak historis sejak awal kemunculannya selalu menjadi rangkaian dari upacara tersebut. Di dalam pertunjukan potehi tidak hanya sekadar sebagai hiburan melainkan juga sebagai tuntunan kehidupan yang sarat akan pesan moral baik itu kebajikan, kejujuran, dan keadilan, yang dianggap relevan untuk memulai tahun baru.
Seni pertunjukan ini juga dapat merajut dan merekatkan persatuan di tengah keberagaman kultural, walaupun saat ini seperti melakukan perjalanan menyusuri jalan sunyi. Kehadiran para impresariat (penyandang dana) dan mereka yang peduli sangatlah dibutuhkan agar kesenian ini bisa tetap survival di tengah gelombang dinamika zaman.
Selamat merayakan Tahun Baru Imlek 2026.
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan, Kabupaten Magelang.
0 Komentar