Musim Kemarau, Harga Ubi Madusari Stabil

Dilihat 955 kali

BERITAMAGELANG.ID - Musim kemarau terjadi berkepanjangan dan diyakini menurunkan produksi, namun harga ubi Madusari, khas Kecamatan Windusari Magelang, tetap stabil. Tidak ada kenaikan berarti. Berdasarkan pantauan Berita Magelang, di Pasar Bandongan dan Windusari harga umbi madusari dipatok pada harga Rp5.000,-/kg.


"Harga ubi madusari tetap, tidak ada kenaikan. Saya kulakan di Pasar Windusari per kilogramnya Rp4.000. Di sini (Pasar Bandongan) saya jual Rp5.000," ujar seorang pedagang Pasar Bandongan.


Ketua Forum Petani Multikultur Indonesia (FPMI), Istanto ketika dihubungi di rumahnya di Dusun Truni Kecamatan Windusari pada Rabu (15/11/2023) mengatakan harga ubi jalar berkisar antara Rp3.500 sampai dengan Rp4.200 per kilogramnya. Sebelum kemarau, harga di tingkat petani antara Rp3.000 sampai Rp3.500.


Dijelaskannya, harga ubi madusari dari tingkat petani itu beragam. Tergantung sulitnya dan mudahnya akses ke lahan. Kalau akses menuju lahan sulit maka harganya lebih murah karena pedagang membutuhkan biaya angkut yang lebih besar. Sebaliknya, kalau akses menuju lahan mudah, harga cenderung lebih baik.


Dituturkannya, dalam pengelolaan ubi, sebelum masuk pasar diadakan pemilihan terlebih dahulu menjadi beberapa grade atau kelas. Kelas A banyak diminati oleh para pengekspor.

Kelas B banyak dibeli pedagang pasar, pabrik, swalayan dan pemanggang ubi. Sedangkan yang kelas C banyak dibeli para pengolah ubi atau home industry.


Klasifikasi ke dalam ketiga grade ini menjadikan harga ubi berbeda-beda. Ada yang lebih mahal, ada yang lebih murah. Untuk yang kelas bagus, harga dari pengepul kepada pedagang bisa mencapai Rp6.000 per kilogram. 


"Ketelanya sudah dicuci bersih," jelasnya.


Saat kemarau, ungkap Istanto, budi daya ubi dirasa cukup terdampak. Terutama lahan-lahan tadah hujan yang kurang baik irigasinya. Tetapi lahan lahan yang berada dalam jaringan irigasi yang baik produksi tetap otimal.


"Memang daerah atas, seperti Genito dan Candisari atas, nyaris tidak bisa ditanami karena pengairannya kurang. Budi daya daya menjadi tidak optimal. Akan tetapi yang ada jaringan irigasinya, produksi tetap optimal. Sebagai contoh, untuk lahan yang berada di bawah irigasi Sidandang produksi tetap bagus meskipun petani harus bergiliran berbagi," ungkapnya.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar