BERITAMAGELANG.ID - Kerajinan keris berpotensi berkembang menjadi ekosistem usaha berkelanjutan. Melestarikan budaya sekaligus membangun konektivitas para pelaku ekonomi kreatif.
Ekonomi kreatif hadir sebagai wujud nilai tambah kekayaan intelektual yang bersumber dari kreatifitas manusia. Biasanya berakar pada warisan budaya, ilmu pengetahuan atau penguasaan teknologi turun temurun.
Kerajinan keris berpotensi dikembangkan menjadi ekonomi kreatif karena sedikitnya memenuhi tiga syarat: Diakui UNESCO sebagai karya budaya leluhur Nusantara, mengandung nilai kehidupan, dan memiliki unsur penyusun nonbenda yang sarat makna-filosofi.
Keris seperti benda koleksi seni lainnya (lukisan, patung, dan pahatan), tidak terpaku pada standar nilai tukar barang. Harga keris tergantung pada unsur nilai estetika, emosional, dan historis.
Meski ada kesepakatan mengenai jenis pamor tertentu, keris dengan motif tempaan logam serupa bisa jadi punya harga yang berbeda. Setiap keris punya nilai tukar yang beragam, tergantung subjektifitas penjual maupun pembeli.
Keris Dhapur Jalak
"Makanya kami pakai tema, pameran dan bursa tosan aji. Sebab ada banyak bakul-bakul keris yang hadir. Ikon yang kita pakai keris Dhapur Jalak. Biasanya keris untuk kesejahteraan, rezeki, pergaulan dan ketentraman," kata Ketua Pelaksana Pameran dan Bursa Keris Satriyatama, Agustinus Sumadiyono, Sabtu (30/8).
Dhapur Jalak memiliki ciri bentuk keris lurus dengan bilah lebar, panjang, dengan bagian sor-soran (bawah) agak tebal. Keris jenis ini memakai tikel alis dengan pamor mlumah, miring atau wengkon.
Salah satu model Dhapur Jalak yang terkenal adalah Dhapur Jalak Sangu Tumpeng. Keris dhapur ini diyakini bertuah memberikan kelimpahan rezeki kepada pemiliknya.
"Untuk menghargai Candi Borobudur, kami juga menampilkan keris Dhapur Jalak Buda. Model ini sudah ada sejak zaman peralihan dari zaman batu ke zaman besi," lanjutnya.
Meski ada silang pendapat terkait perkiraan waktu kemunculannya pada masa Buddha, para pecinta keris umumnya sepakat bahwa keris Jalak Buda adalah keris generasi pertama di Nusantara.
Pecinta dan pelestari tosan aji di wilayah Magelang dan sekitarnya, bergabung dalam organisasi Satriyatama. Mengusung nama dari akronim "Satuhu Memetri Budaya Tosan Aji Magelang" para anggotanya bertekad setia merawat dan melestarikan budaya tosan aji.
Ceruk Bisnis Pasar Keris
Sedikitnya ada dua pembuat keris yang masih aktif di Kabupaten Magelang. Ini menunjukkan upaya melestarikan budaya keris masih terus dilakukan hingga hari ini.
Salah satu pembuat keris di Magelang adalah Heru Susilarto. Dari rumahnya di Dusun Nglawisan, Tamanagung, Muntilan, Heru juga menerima jasa reparasi keris termasuk memperbaiki handel dan warangka.
Menurut Heru, membuat keris selain melestarikan budaya juga menjanjikan keuntungan ekonomi. Paling sedikit dia menerima pesanan membuat satu keris setiap bulan.
"Ada dari Yogyakarta, Semarang, Jakarta, kadang datang memperbaiki keris. Yang pesen (membuat keris) itu paling nggak sebulan satu. Minimal 1 bilah keris tanpa warangka itu saya jual Rp10 juta," ujar Heru.
Tidak seperti kebanyakan empu keris yang memperoleh keahlian secara turun temurun, Heru mempelajari cara membuat keris secara otodidak. Dia terjun membuat keris dari keprihatinan semakin berkurangnya jumlah senjata tradisional itu.
"Saya pernah cari keris ke seluruh Jawa. Sampai Majalengka, Pangandaran, Ciamis. Saya pikir keris kalau terus dicari lama-lama habis. Terus saya mulai bikin," kisahnya.
Seni Mahal Tempa Logam
Berbekal pengetahuan mengenai teknik baja konstruksi semasa kuliah di Universitas Sebelas Maret, Heru mulai memahami cara menempa logam menjadi keris.
Bilah keris dibentuk dari campuran baja, besi, dan nikel. Ketiga jenis logam ditempa bersama sehingga menjadi bilah keris setegah jadi.
Bahan nikel biasanya diambil dari knalpot bekas motor. Bajanya dipreteli dari per mobil bekas. Semua plat logam dibakar dan dilipat berkali-kali hingga menyerupai kue lapis.
Pada hari kedua pameran dan bursa tosan aji di Kampung Seni Borobudur, Heru berhasil menjual sebilah keris seharga Rp15 juta.
"Seni rupa tempa logam itu tidak ada nilai standar. Seperti lukisan (harganya) tergantung siapa yang punya dan siapa yang mau beli. Garapannya gimana," ujarnya.
Benteng Tradisi
Pameran dan Bursa Tosan Aji bertajuk "Ngudi Kawruh Sejatining Tosan Aji" digelar 29-31 Agustus 2025 di Kampung Seni Borobudur. Sekitar 51 penjual dan perajin perlengkapan keris dari seluruh Jawa ikut terlibat pada acara ini.
Pameran dan bursa tosan aji yang didukung Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji (Senapati) Nusantara ini bertujuan membangun kesadaran, keterlibatan, dan rasa memiliki ekosistem budaya bersama.
Termasuk memberi pengetahuan kepada generasi tentang seluk beluk keris sebagai senjata tradisional yang memiliki sejarah dan nilai spiritual tinggi.
"Saya kadang sedih ada orang pakai blangkon, surjan (tapi) pakai celana panjang dan sepatu. Seperti kurang menghargai adat. Saya harap jangkep mengenal adat, termasuk menyelipkan keris saat mengenakan pakaian Jawa," pungkas Ketua Pelaksana Pameran dan Bursa Keris Satriyatama, Agustinus Sumadiyono.
0 Komentar