Memantik Kembali Minat Belajar

Dilihat 2056 kali
Hari pertama masuk sekolah guru perlu memantik minat belajar peserta didik agar capaian pembelajaran dapat tercapai selaras dengan tujuan awal.

"Pertama kali masuk di awal semester genap ini, kok kita langsung diberi materi pelajaran yang sudah memeras otak. Aduh... Baru masuk pertama kepala sudah pusing," ucap beberapa peserta didik di salah satu sekolah. Ucapan tersebut, walaupun hanya diucapkan secara internal, namun ada juga kebenaran dari ucapannya tersebut.


Ilustrasi di atas yang nadanya merupakan keluhan tersebut layaknya perlu diapresiasi. Mengapa demikian? Tak bisa dipungkiri, minggu ini merupakan awal masuk pertama bagi peserta didik di semua jenjang satuan pendidikan. Merela telah selesai menikmati belajar di rumah selama lebih dari 10 hari pasca menerima laporan hasil belajar di semester ganjil.


Beberapa guru, demi mengejar materi di semester genap, agar target materi cepat terselesaikan, mereka langsung tancap gas, hari pertama masuk sekolah menjejali peserta didik dengan materi-materi utama. Stategi tersebut, kiranya perlu dikaji ulang, mengingat kondisional psikis peserta didik juga perlu disiapkan terlebih dahulu, agar materi yang diberikan guru bisa efektif diterima mereka.


Menggali Pengalaman


Pada saat pertama kali masuk sekolah, sebaiknya guru dapat melakukan model pembelajaran partisipatif yaitu menggali pengalaman peserta didik pada saat libur. Adapun langkah praksisnya dapat dilakukan, peserta didik dimohon mengingat kembali, aktivitas mereka selama liburan untuk dituliskan dalam bentuk teks naratif.


Implikasi teks naratif adalah karangan cerita yang disajikan dalam bentuk konstelasi atau tara urutan peristiwa selaras dengan urutan waktu yang berlangsung. Peristiwa atau kejadian bisa secara faktul terjadi sesuai yang dialaminya. Namun bisa saja merupakan hasil imajinasi mereka.


Adapun tujuan teks narasi ini disusun untuk memberi pengalaman estetis kepada banyak pihak, khususnya pambaca, menambah cakrawala pandang terkait dengan ilmu pengetahuan, informasi yang kian merebak luas, dan juga wawasan kepada para pembaca. Tujuan teks narasi selain menghibur yaitu memberi pengalaman estetis pada pembaca, menambah pengetahuan, informasi, dan wawasan pada pembaca secara lebih luas dan bermakna.


Memang tidak mudah bagi sebagian peserta didik untuk morehkan pengalaman liburan dengan menulis. Sebagian peserta didik yang selalu di rumah dan bermain di seputaran rumah, biasanya menyebut dirinya tidak memiliki pengalaman, apalagi untuk dituliskan menjadi suatu teks naratif yang menarilk.


Sebagai guru, seharusnya selalu memantik antusiasme peserta didik untuk selalu menorehkan pengalaman sekecil apa pun melalui tulisan terkait dengan pengalaman hidupnya, terlebih pada saat liburan. Entah itu berkunjung ke rumah nenek, berlibur ke pantai, sekadar jalan-jalan melepas lelah di mal, ke sawah, atau yang di rumah membantu pekerjaan orang tua.


Dalam konteks liburan sekolah, pengalaman apa pun mestinya bisa dituliskan. Pengalaman libur, tentunya tidah identik dengan berkunjung ke objek-objek wisata dengan biaya mahal. Anak-anak yang berada di rumah dan berkumpul dengan keluarga akan sangat berbeda apabila dikomparasikan dengan hari-hari sekolah.


Dalam teori pedagogi reflektif, pengalaman penting untuk direfleksikan. Pengalaman dalam tindakan reflektif tersebut bisa diwujudan baik lewat tulisan atau cerita lisan untuk dipresentasikan di kelas. Untuk itu, memulai proses pembelajaran dengan pengalaman nyata menunjukkan adanya atensi dan kepedulian terhadap peserta didik, yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta lingkungan yang melingkupinya.


Adapun materi yang dipelajari peserta didik bukanlah materi asing, melainkan secara faktual sering dihadapi dan dialami. Materi bukan sekadar teks tulisan yang dibaca, serta kata-kata yang didengar, melainkan hal yang secara nyata dihadapi dalam hidupnya, merupakan masalah yang secara nyata dapat dirasakan oleh mereka (Baharuddin Fathoni, 2020).


Penulis sebagai guru sempat tertegun membaca tulisan salah seorang peserta didik yang mengisahkan pengalamannya selama liburan. 


"Selama libur semester lebih dari 10 hari, aku melepaskan rinduku kepada keluargaku. Aku merasakan mendapatkan kebahagiaan yang lama kurindukan. Berkumpul dengan keluarga, merajut kebersamaan yang jarang aku rasakan. Aku selama liburan ini memutuskan untuk di rumah membantu kerja orang tuaku. Setiap pagi, aku membantu pekerjaan ibuku mencuci piring, memasak, membersihkan halaman rumah, dan sebagainya. Ketika sore tiba aku membantu ayahku, liputan agenda budaya, yang kebetulan ayahku seorang wartawan,” ujarnya.


Berbagai pekerjaan rumah seperti menyapu atau mencuci piring, bisa jadi telah diabaikan anak-anak ketika kesibukan hari-hari sekolah sudah menyita waktu. Pagi-pagi buta berangkat sekolah, pulang sore hari dikarenakan di sekolah banyak kegiatan ektrakurikuler. Rutinitas aktivitas tersebut, kadang-kadang menyita waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Hanya dengan merasakan kembali segala aktivitas kecil yang luput dari perhatian akan memunculkan perasaan dan pengalaman mengesankan.


Peran Guru


Pada awal pertemuan tatap muka pertama di sekolah, peran guru untuk memantik semangat belajar peserta didik sangat menentukan. Salah satu alternatif yang dilakukan diantaranya menuliskan kembali pengalaman selama liburan untuk menjadi bahan refleksi bersama. Suka dan duka pengalaman mereka perlu diakomodasi sebagah bahan menggali kualifikasi potensi peserta didik dengan latar belakang keluarganya agar mereka memeroleh peneguhan di kelas.


Dengan memantik minat belajar kembali peserta didik untuk terus belajar merupakan peran guru sebagai motivator yang tidak dapat dilepaskan dengan kompetensi pedagosis yang harus dimiliki. Mengelaborasikan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya baik akedemis maupun non akademis akan mengantarkan jiwa-jiwa muda ini meraih tujuan dan hakikat sejatinya pendidikan yaitu memanusikan manusia untuk membentuk pribadi utuh. Kiranya mereka perlu dibantu untuk mengolah setiap pengalaman hidupnya.


(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar