Simbol Rumah Tradisional

Dilihat 3160 kali
Puri Gede Buleleng di Kabupaten Singaraja Bali (foto dok. pribadi)

Menelisik historis rumah berarti juga meniti perjalanan peradaban manusia. Dari sana  manusia mulai belajar bermasyarakat dan menciptakan sistem nilai yang berlangsung dari generasi ke generasi. Dari perjalanan historis rumah dapat diperoleh informasi tentang  berbagai unsur kebudayaan suatu masyarakat. Rumah juga dapat memberikan gambaran tentang nilai seni, religi, mata pencaharian, kekuasaan, juga teknologi. Masing-masing  berkelindan satu dengan lainnya. 


Eksistensi rumah dalam tradisi bermukim menjadi bagian dari historis dan peradaban manusia. Tradisi bermukim tersebut, bila dijabarkan setidaknya mengandung tiga unsur penting, yakni pertama membangun keluarga, kedua mencari lahan, dan ketiga membangun tempat tinggal. 


Dalam cakupan yang lebih luas, sejatinya keberadaan rumah sangat ditentukan oleh sistem kebudayan komunitas setempat. Selanjutnya, ada dua sistem yang termuat di balik rumah. Sistem tersebut tak lain adalah bersifat nyata (tangible) dan tidak nyata (intangible).


Sifat tangible selalu berkorelasi dengan fungsi rumah, antara lain sebagai tempat berteduh, berlindung, beristirahat, dan bekerja. Adapun sifat intangible berhubungan dengan sistem religi yang melingkupi kepercayaan terhadap alam serta penguasa. Maka tak berlebihan bila dikatakan bahwa rumah adalah produk kebudayaan manusia yang sangat fenomenal. 


Nuansa Simbol


Keberadaan rumah bila diamati secara jeli penuh dengan nuansa simbol. Budiono Herusatoto dalam buku Simbolisme dalam Budaya Jawa (1987) menegaskan pengertian simbol adalah sesuatu hal atau keadaan yang merupakan pengantar pemahaman terhadap objek. Adapun sejatinya rumah tradisional, di dalamnya mempunyai makna yang sarat akan simbol kekuasaan atau status sosial.

 

Simbol tersebut nampak jelas dalam rumah tradisional khususnya pada masyarakat dengan hirarki yang cukup tegas. Sebagaimana pada zaman feodal atau kerajaan, akan dapat terlacak bentuk dari rumah rakyat jelata dan juga rumah keluarga kerajaan atau aristokrat. 


Pada rumah milik masyarakat kebanyakan dapat ditemui petunjuk umum yang berlaku. Baik itu terkait bentuk, bahan baku, ornamentasi, lokasi atau lahan yang umumnya sangat sederhana. Sementara rumah milik keluarga kerajaan biasanya dibangun secara megah, penuh dengan ornamentasi, menggunakan bahan-bahan baku pilihan,serta berada di lokasi yang cukup strategis.

 

Kemegahan tersebut tentu saja mengindikasikan sekaligus menguatkan suatu simbol kekuasaan juga simbol kondisi yang akan diidealkan. Sehingga pada elaborasinya  muncul kecenderungan, rumah keluarga kerajaan ini dijadikan identitas daerah dan dilegitimasikan sebagai rumah tradisional atau adat. 


Biaya Tinggi


Salah satunya bisa dilihat pada rumah Joglo di Jawa yang sarat akan simbolisasi transendental. Di samping itu, rumah jenis ini umumnya besar dan luas serta  memerlukan bahan bangunan dalam jumlah banyak, sehingga pendiriannya benar-benar menuntut  biaya lebih tinggi. 


Rumah Joglo merupakan bentuk bangunan yang paling banyak dijumpai dan merupakan bangunan khas yang tersebar hampir di seluruh Pulau Jawa. Berdenah segi empat dengan ukuran yang lebih besar dan penggunaan bahan bangunan yang lebih banyak. Bentuk rumah ini mempunyai atap di keempat sisi dengan bubungan atap yang tinggi. Ciri umum bangunan joglo ini yaitu memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru dan menggunakan blandar bersusun yang disebut blandar tumpang sari. Blandar tumpang sari ini merupakan blandar bersusun ke atas yang semakin ke atas semakin melebar. 


Pada bagian ini terdapat bagian kerangka yang disebut sunduk atau sunduk kili yang berfungsi sebagai penyiku atau penguat bangunan agar tidak berubah posisinya. Sunduk ini terletak pada ujung atas saka guru di bawah blandar. Pada umumnya Joglo merupakan bangunan tradisional milik bangsawan atau kerabat kerajaan. Simbolisasi transendental itu tercermin dari bentuk, bahan-bahan, tata ruang, juga ornamentasinya.


Sebagai komparasi, rumah tradisional di Bali ada yang dikenal dengan nama Puri. Rumah tradisional ini adalah rumah tempat tinggal para bangsawan atau aristokrat. Arsitektur tradisional Bali ini dipengaruhi keberadaan manuskrip Hindu bernama Lontar Asta Kosala Kosali, yang memuat tentang aturan-aturan pembuatan rumah atau puri, hingga aturan tempat pembuatan ibadah atau pura. Arsitektur Bali juga sangat dipengaruhi oleh tradisi Hindu Bali dan unsur Jawa kuno. Simbolisasi kekuasaan keluarga aristokrat tercermin eksotis lewat ukiran ikonografik pada detail bangunannya yang menggambarkan kesatuan antara aspek religi, kosmologi, dan politik kekuasaan (Majalah Gong, 2009).


Begitulah eksotisme dan simbolisasi rumah tradisional di Nusantara. Bangunan tersebut mencitrakan kultur komunitas lokal sebagai bagian dari kehidupan berbudaya yang tak akan lekang oleh waktu. 


(Penulis: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata, Jogonegoro, Kec. Mertoyudan, Kabupaten Magelang) 

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar