Nyadran di Makam Kyai Candrabumi Trah Kasultanan Ngayogyakarta

Dilihat 689 kali
Para peziarah Nyadran berdoa di makam petilasan Kyai Candrabumi

BERITAMAGELANG.ID-Siapakan Kyai Candrabumi? Ada beberapa versi yang mengisahkan asal-usulnya. Seperti yang dituturkan para juru-kunci makamnya.  

Salah satu Juru Kunci makam patilasan Kyai Candrabumi, Banari, menuturkan dalam acara Nyadran beberapa tahun yang lalu pernah dihadiri R.M. Asmodipuro, abdi dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Bagian Kaprajan, yang menjelaskan bahwa Kyai Candrabumi adalah putra trah keturunan raja Paku Buwana II. Pangeran Candrabumi meninggalkan karaton bersama Pangeran Surantaka, karena tidak setuju dengan hasil Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang memecah Kerajaan Mataram menjadi dua yaitu Ngayogyakarta dan Surakarta. Banari mengaku masih menyimpan silsilahnya dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Namun demikian, Banari juga tetap menghormati cerita rakyat tentang Kyai Candrabumi yang telah menjadi legenda di tengah masyarakat, yang menyebutkan bila Kyai Candrabumi adalah salah seorang Manggala Yudha Laskar Pangeran Diponegoro. Ini merupakan versi lain dari cerita legenda Kyai Candrabumi, sebagai tokoh legendaris yang menjadi mitos di tengah masyarakat. Banyak warga masyarakat di sini yang menganggap kalau Kyai Candrabumi adalah salah seorang perajurit pengikut Pangeran Diponegoro. Ketika Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap dengan tipu daya oleh Jendral De Kock di rumah Residen Magelang, Kyai Candrabumi tidak mau dirinya ditangkap dan mati konyol dibunuh serdadu penjajah Belanda. Dia dan para perajurit lainnya mencari keselamatan pergi ke arah timur, menyeberang sungai Elo dan naik ke timur ke wilayah Candimulyo dan akhirnya menetap di sebuah dusun.

Ketika usia Kyai Candrabumi beranjak tua, sedikit demi sedikit dia meninggalkan masalah keduniawian dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan sering melakukan nyepi dan bersamadi. Menurut ceritanya, suatu hari pada pertengahan bulan Ruwah, Kyai Candrabumi bersamadi di suatu tempat yang rindang di antara dua pohon yaitu pohon semboja dan pohon pakis di pinggiran jurang. Sehingga tempat bersemedi Kyai Candrabumi tersebut kini disebut "gupitan", karena tempatnya yang "nggupit" yang artinya terjepit. Namun warga dusun Candran (dusun di mana Kyai Candrabumi kala itu bermukim), pada hari berikutnya tidak melihat dan tidak berjumpa lagi dengan Candrabumi. Warga dusun mencari keberadaannya di sekitar desa, namun Kyai Candrabumi tidak berhasil ditemukan. Sehingga, banyak orang yang percaya bila Kyai Candrabumi telah moksha, wafat dan musna bersama raganya karena kesaktiannya.

Ketika itu Kyai Candrabumi diketahui warga dusun Candran terakhir pada hari pasaran Pahing pertengahan bulan Ruwah menjelang bulan purnamasidhi. Dan pada hari pasaran Pon, warga di dusun tersebut sudah tidak melihat lagi Kyai Candrabumi. Sehingga untuk pedoman acara Nyadran di Makam Patilasan Kyai Candrabumi yaitu antara tanggal 11 sampai 15 bulan Ruwah, pada hari pasaran Pon. Cerita "tutur tinular" dan turun-temurun ini masih ada dan lestari di tengah kehidupan masyarakat desa Podosoko dan sekitarnya.

Juru kunci lainnya, Sadjijo, mengisahkan, Kyai Candrabumi adalah seorang putra Sultan Mataram. Kabar tersebut diterima secara "gaib" oleh salah seorang juru kunci makam, Pak Sadjijo. Pada tahun 1960 dalam "laku prihatin" Pak Sadjijo bermimpi melihat seekor burung perkutut putih yang hinggap di atas cungkup makam Kyai Candrabumi. Dia  mendengar suara gaib yang mengungkapkan asal-usulnya Kyai Candrabumi. Disebutkan, Kyai Candrabumi adalah putra Sultan Mataram yang bernama Gusti Amat. Beliau sebenarnya mempunyai hak menjadi sultan. Namun karena ada beda pendapat dengan sultan yang berkuasa saat itu, akhirnya Gusti Amat memilih keluar dari istana dan mengembara ke pedesaan, yang akhirnya bermukim di salah satu dusun yang kini bernama Gupitan. Di dusun ini, beliau sering melakukan semedi yang akhirnya bisa mencapai "moksha". Nama Candrabumi sebagai nama samaran dalam pengembaraannya, agar dapat lebih dekat dengan rakyat dan bisa melindungi rakyat dari penindasan penjajah Belanda.

Berdasarkan petunjuk gaib yang diterima Pak Sadjijo ini, Dra. Suyami, M.Hum., salah seorang peneliti dari Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta (kini Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X) pernah melacak sejarah Kyai Candrabumi ke "Tepas Darah Dalem" Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam tulisannya berjudul "Mitos Kyai Candrabumi: Kajian Nilai Magis Religius bagi Masyarakat pendukungnya," yang dimuat dalam buku Seri Sejarah dan Budaya "Patra Widya" yang diterbitkan Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata, Juni 2003. Dia menyebutkan, pihak karaton memberikan penjelasan bahwa nama Candrabumi tidak dikenal di Karaton Yogyakarta. Namun nama "Gusti Amat" memang ada yaitu nama lain dari Gusti Pangeran Harya Suryaningalaga, putra tunggal Sultan Hamengku Buwana V yang lahir dari permaisuri. Namun dia lahir setelah ayahandanya yaitu Sultan Hamengku Buwana V wafat. Dan  pihak karaton telah terlanjur mengangkat adik Hamengku Buwana V yang bernama Raden Mas Mustojo sebagai Hamengku Buwana VI.  Dan setelah Hamengku Buwana VI wafat, yang diangkat sebagai Hamengku Buwana VII yaitu putra Hamengku Buwana VI.

Dalam "Serat Raja Putra Ngayogyakarta Hadiningrat" juga ditulis, bila Gusti Pangeran Harya Suryaningalaga dibuang ke Menado (Kendhang Menadho). Namun tidak ada keterangan atau informasi yang jelas kapan dia dibuang, kapan dan di mana wafatnya, serta di mana makamnya.

Kepala Desa Podosoko Warjana mengharapkan, makam petilasan Kyai Candrabumi ini perlu dilestarikan, termasuk tradisi Nyadran yang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun yang lalu. Hal ini sepanjang tidak menyimpang dari aqidah agama. Sebab acara ritual tradisional ini merupakan salah satu warisan budaya spiritual dan dapat menjadi obyek wisata religi di wilayah  Kabupaten Magelang yang dapat dan perlu dikembangkan.

Tukiman, seorang seniman dan tokoh masyarakat setempat menambahkan, pada setiap acara Nyadran warga dusun Buburan II desa Tempak, membawa nasi, lauk-pauk dan makanan kudapan Nyadran dengan menggunakan "tenong" (wadah makanan yang  terbuat dari anyaman bambu). Hal ini sebagai upaya untuk melestarikan penggunaan tenong yang kini sudah jarang digunakan.

Nyadran di makam petilasan Kyai Candrabumi tahun ini diselenggarakan pada hari Rabu Pon, tanggal 11 Ruwah 1957 Jimawal atau 21 Pebruari 2024 M. Acara Sadranan ini dengan siraman rohani oleh Kyai Abdul Choliq dari desa Sedayu Kecamatan Muntilan dan membaca Doa Tahlil bersama. Acara ini dihadiri para pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan Candimulyo, kepala desa dan perangkat desa, tokoh masyarakat dan undangan lainnya.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar