Iswanto, Gigih Melestarikan Tatah Sungging Di Era Modern

Dilihat 2307 kali

BERITAMAGELANG.ID - Pagelaran Wayang kulit tentu tidak asing bagi masyarakat Pulau Jawa khususnya Jawa Tengah. Wayang kulit adalah pertunjukan drama dengan tokoh yang dibuat dari bahan kulit, dengan proses pembuatan yang disebut "Tatah Sungging" atau mengukir dan mewarnai tokoh wayang dalam selembar kulit.

Yulius Siswanto, adalah alah satu seniman asal Muntilan Kabupaten Magelang yang masih menggeluti bidang Tatah Sungging, sejak kecil dia sudah mencintai dan belajar tentang Wayang. Bermula membantu teman untuk menyungging (mewarnai wayang) akhirnya menjadi sering nyungging wayang figur-figur wayang dari Solo.

"Sejak kelas 1 SMP mulai nyungging yang difasilitasi Ketua Pepadi Magelang. Nah, saya sekolah nyambi nyungging wayang," ungkap Iswanto saat ditemui disela kegiatan menyungging wayang di rumahnya Dusun Karangwatu, Desa Pucungrejo Kecamatan Muntilan, Selasa 21/02/2023.

Seniman yang selalu membuka rumahnya untuk belajar wayang bagi siapa pun segala usia ini menyampaikan, bahwa ketika dulu menjelang lulus SMK dia mendapatkan kesempatan belajar menatah dan menyungging di daerah Blimbingan Yogyakarta dengan Dhalang Sukarji. Ia tertarik dengan karya Dhalang tersebut, karena Ki Sukarji melakukan tatah sunggih dengan 9 pahat Wayang. Sedangkan pahat wayang kulit membutuhkan 30 pahat.

"Awalnya saya melihat sambil belajar. Namun, perlahan sudah mulai membeli kulit kerbau untuk belajar. Waktu itu saya membuat 2 Wayang yaitu Setyaki dan Jolosutro. Karena masih belajar, saya hanya sukses menyelesaikan salah satunya," terang Dhalang lulusan ISI Jogjakarta ini.

Optimis dan semangat belajar yang tinggi menghantarkan Ki Yulius Iswanto menjadi Dhalang dan seniman Tatah Sungging hingga sekarang. Ia mulai bergerak untuk regenerasi, sehingga merangkul rekan-rekan yang mau belajar menyungging wayang. Setelah itu mempelajari memahat. Dan ilmu yang beliau berikan tanpa dipungut biaya, semata-mata demi melestarikan budaya bangsa.

"Wastro lungset ing sampiran yaitu adanya kemampuan yang tidak dibagiakan akan hilang," ujarnya.

Salah satu upaya pelestarian budaya yang beliau lakukan adalah mencetuskan melukis mural atau lukisan tembok berupa tokoh wayang pada tahun 2020 di tempat beliau tinggal. Dengan mengajak anak-anak muda dan tercetuslah nama menjadi Kampung Mural Wayang. Harapannya di masa yang akan datang, dusun tempat tinggalnya menjadi Kampung Mural Wayang.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar