BERITAMAGELANG.ID - Sepanjang Jalan Pemuda Muntilan dipenuhi masyarakat yang antusias menyaksikan Karnaval Budaya Kecamatan Muntilan, Sabtu (30/8). Tahun ini, jumlah peserta karnaval mencapai 55 kontingen, terdiri dari sekolah-sekolah, pemerintah desa, hingga kelompok masyarakat umum. Barisan demi barisan berjalan dengan penuh percaya diri, menampilkan kekayaan kreasi dan identitas masing-masing. Ada yang membawa nuansa tradisional, ada pula yang menonjolkan inovasi modern.
Camat Muntilan, Tito Lestianto, menyampaikan rasa bangganya melihat antusiasme warga dalam mengikuti rangkaian karnaval budaya tahun ini. Ia menilai, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peserta yang terlibat semakin banyak dan komposisinya pun semakin beragam, mulai dari pelajar, perangkat desa, komunitas seni, hingga kelompok masyarakat umum.
Masyarakat begitu semangat, peserta pun semakin berwarna dengan menampilkan berbagai kreasi. Karnaval ini bukan hanya sekadar tontonan atau hiburan semata, melainkan juga menjadi bukti nyata bagaimana warga Muntilan bisa bersatu, berguyub, dan berpartisipasi aktif dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia," ujarnya.
Tito menambahkan, penyelenggaraan karnaval budaya Muntilan tahun ini menjadi simbol peringatan hari kemerdekaan tidak berhenti pada upacara seremonial belaka. Melainkan, perayaan tersebut juga bisa menjadi ruang terbuka untuk mengekspresikan ide, kreativitas, dan potensi yang dimiliki masyarakat. Di saat yang sama, kegiatan ini menjadi sarana penting dalam menjaga kelestarian tradisi, memperkuat identitas budaya lokal, serta menumbuhkan optimisme bersama dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.
Salah satu kontingen yang mencuri perhatian adalah rombongan Pemerintah Desa Pucungrejo. Mereka tampil beda dengan mengusung konsep Desa Digital. Bukan hanya parade kostum, melainkan juga sebuah pesan transformasi desa menuju Indonesia maju. Sekretaris Desa Pucungrejo, Muh Yulianto, menjelaskan inovasi desa digital sudah mulai dirintis sejak 2020.
"Lewat layanan digital, masyarakat bisa mengurus berkas tanpa harus ke kantor desa, cukup lewat ponsel. Ada layanan akta kematian cepat, smart village, internet dusun, smart card posyandu, hingga e-catalog UMKM. Semua itu bertujuan untuk memudahkan masyarakat sekaligus membentuk desa yang lebih mandiri dan adaptif terhadap teknologi," ungkap Yulianto.
Menurutnya, keikutsertaan Desa Pucungrejo dalam karnaval budaya ini bukan hanya sekadar ajang hiburan atau perayaan, melainkan juga sarana sosialisasi untuk memperkenalkan wajah baru desa. Desa Pucungrejo ingin menunjukkan bahwa desa tidak hanya kuat karena akar budayanya yang masih terjaga, tetapi juga karena keberaniannya melakukan transformasi menuju modernitas. Dengan begitu, karnaval budaya ini menjadi ruang penting untuk menyampaikan pesan bahwa tradisi dan teknologi bisa berjalan beriringan, saling melengkapi, serta menjadi penopang bagi terwujudnya masyarakat yang lebih maju dan sejahtera.
Sebagai penutup, 11 grup drumband sekolah dari berbagai jenjang tampil enerjik. Derap langkah pasukan drumband berpadu dengan alunan musik penuh energi, seolah menjadi klimaks dari seluruh rangkaian karnaval. Penonton pun larut dalam suasana, memberikan tepuk tangan meriah hingga acara usai.
0 Komentar