Tuntunan Hidup di Balik Tontonan

Dilihat 42 kali
Pondok Seni Budaya Budiharjo Borobudur Kabupaten Magelang setiap bulan selalu konsisten menyelenggarakan pentas wayang kulit. Sampai bulan Oktober 2026 pementasan sudah berlangsung 328 kali.

Ketika suara gamelan ditabuh dengan dinamis, puluhan tamu yang bermalam di Hotel Pondok Tingal Borobudur Kabupaten Magelang berduyun-duyun ingin menyaksikan pertunjukan wayang kulit yang digelar di Pondok Seni Budaya Budiharjo Borobudur. Lokasi pondok seni tersebut kebetulan satu kompleks dengan Hotel Pondok Tingal. Tamu hotel dari berbagai usia menyaksikan dengan penuh antusias pertunjukan yang di era digitalisasi ini jarang disaksikan secara langsung. Selain tamu hotel, para penonton dari masyarakat umum, juga banyak hadir tamu undangan dari berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta.


Pondok Seni Budiharjo rutin dan konsisten menyelenggarakan pentas wayang kulit setiap bulannya di minggu keempat. Sampai pada Oktober tahun ini sudah berlangsung 328 pementasan. Para dalang diambil secara bergiliran dari Kabupaten Magelang dan juga dalang-dalang lain di seluruh Jawa Tengah. Di tempat ini dapat menjadi wadah para dalang untuk berkekspresi dengan format pakeliran padat atau pendek dengan durasi kurang lebih tiga jam. Maka tak mengherankan setiap bulannya, pementasan wayang kulit ini selalu ditunggu oleh masyarakat.


Ilustarasi di atas menandakan, sampai saat ini pagelaran wayang masih diminati masyarakat. Di tengah era disrupsi dan digitalisasi yang merambah di seluruh lini kehidupan, ternyata aktivitas kebudayaan, seperti pagelaran wayang kulit masih mendapat tempat tersendiri dan penggemar setia, meskipun harus juga berkompetisi ketat dengan gempuran media sosial, teknologi, serta hiburan modern yang lebih instan bagi generasi muda.


Momentum Penting


Sebagaimana diketahui, setiap tanggal 7 November diperingati sebagai Hari Wayang Dunia. Suatu momentum penting untuk merayakan dan melestarikan tradisi seni Nusantara yang berlangsung turun temurun merambah sampai lintas generasi. Adapun yang perlu menjadi catatan, peringatan ini bukan hanya sekadar rekognisi terhadap eksistensi wayang sebagai semiotika kultural, tetapi juga merupakan langkah penting dalam menjaga warisan seni tradisional yang sudah melintasi jejak waktu lama.


Sebagai sebuah seni pertunjukan, wayang juga sudah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya tak benda pada tanggal 7 November 2003. Salah satu alasan mendasar lembaga PBB memberikan rekognisi tersebut tak lain wayang dapat menjadi ikon budaya yang mendunia dan menjadi pintu gerbang untuk memahami lebih dalam tentang Indonesia.


Sedangkan di tingkat nasional penetapan Hari Wayang Nasional telah terbit payung hukumnya melalui Keppres 30 Tahun 2018. Dengan keputusan tersebut, pemerintah menetapkan bahwa setiap 7 November bukan sekadar tanggal simbol, tetapi juga menjadi momentum pengaktifan program pelestarian wayang di berbagai tingkatan, dari sekolah hingga komunitas seni. Dalam dinamika dan proses perjalanan waktu, wayang telah bertumbuh dan mengalami elaborasi menjadi aset nasional dengan kandungan nilai tinggi dalam membentuk karakter dan jati diri bangsa. 


Pada tahun ini, tema yang diambil dalam menyemarakkan Hari Wayang Dunia yaitu Uruping Blencong: Menjaga Nyala Wayang dari Jagat Lokal ke Panggung Global. Blencong merupakan alat penerangan yang berfungsi untuk menghidupkan bayangan wayang di layar atau kelir dalam seni pertunjukan wayang kulit. Tema tersebut mengandung maksud pentingnya menjaga spirit wayang agar tidak hanya bertahan di lingkungan tradisi, tetapi juga mampu menjangkau segmen lebih luas sampai panggung internasional dan ruang digital yang dekat dengan generasi muda.


Tuntunan Hidup


Apabila ditelisik lebih jauh, seni pertunjukan wayang yang tumbuh di Jawa dan sekarang secara masif sudah berkembang di seluruh Nusantara dipandang sebagai salah satu bentuk tontonan rakyat yang kental dengan nilai-nilai kerakyatannya. Sebagai sebuah bentuk tontonan, pertunjukan wayang selalu berhubungan erat dengan berjubelnya penonton yang terdiri atas berbagai lapisan masyarakat, semuanya bertujuan untuk menonton pertunjukan tersebut. Terlebih lagi, kalau dalang sebagai naratornya piawai memainkan wayang atau olah sabet, komunikatif, menghibur, dan mampu menangkap situasi aktual yang dikomunikasikan kepada penonton.


Di balik gegap gempitanya tontonan wayang, di dalamnya juga mengandung tuntunan kehidupan manusia. Tidak hanya sekadar memberikan hiburan yang segar bagi para penontonnya, tetapi melalui lakon dalam cerita yang disajikan oleh dalang dapat memberikan ajaran moral dan nilai-nilai keutamaan kehidupan (Cahya, 2016).


Setiap lakon dalam cerita pewayangan selalu mengarah kepada sebuah tema yang berkaitan erat dengan fenomena dan realitas kehidupan. Seperti halnya tema kepahlawanan (patriotisme), kesetiaan, kepemimpinan, perkawinan, kelahiran, perebutan hak kepemilikan, pendalaman ilmu, dan lain-lain.


Sebagai contoh nilai kepahlawan atau nasionalisme dapat diambil dari tokoh Adipati Karna, panglima perang Hastinapura. Kesatria yang selalu memegang prinsip secara konsisten. Ia rela mengorbankan jiwa raganya ketika Kerajaan Hastina mendapat ancaman dari kerajaaan-kerajaan sekutu para Pandawa dalam kancah perang besar Bharatayudha. Untuk kepentingan negara, jiwa menjadi taruhannya.


Dalam hal kepemimpinan, terdapat ajaran asta brata yaitu wejangan Sri Rama kepada Wibisana ketika akan menjadi pemimpin di Kerajaan Alengka. Dalam ajaran asta brata tersebut menegaskan sifat dan sikap yang dimiliki seorang pemimpin merupakan penentu berhasil atau tidaknya seorang pemimpin dalam menjalankan roda pemerintahan.


Tema-tema tersebut akan tersajikan secara simbolik dengan muatan nilai-nilai kehidupan yang dapat memberikan bekal sebagai tuntutan bagi penonton setelah menyaksikan pertunjukan wayang. Hikmah di balik cerita yang terdapat dalam lakon pewayangan tersebut, pada akhirnya dapat meneladani hal-hal yang baiknya sebagaimana terdapat pada tokoh wayang protagonis. Selain itu juga dapat bercermin kepada hal-hal keburukan, kejahatan, keangkaramurkaan yang diperankan oleh tokoh-tokoh wayang antagonis.


Pada prinsipnya pertunjukan wayang dipandang sebagai etalase nilai dan norma kehidupan yang di dalamnya memuat aspek-aspek nilai spiritual, moralitas, dan nilai-nilai normatif lainnya. Melalui kedalaman nilai-nilai tersebut, maka pertunjukan wayang sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia dalam kontek kehidupan berbangsa, berbudaya dan beragama.


Dengan demikian Hari Wayang Dunia, kiranya dapat dimaknai bukan hanya sekadar seromonial saja, namun sebagai refleksi pengembangan pewayangan perlu menjangkau ruang digital dan panggung internasional. Wayang tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya masa lalu, tetapi juga menjadi karya seni yang tetap hidup, relevan, dan diminati masyarakat masa kini tanpa harus meninggalkan identitas dan filosofi yang terkandung di dalamnya.


Untuk itu, kolaborasi paralel antar semua pihak perlu terajut dalam satu sinergi. Komunitas seniman, pemerhati seni, Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) di masing-masing kabupaten dapat berkolaborasi dengan pemerintah sebagai fasilitator untuk bersama-sama menstimulasi agar wayang di masing-masing daerah dapat berkembang selaras dengan dinamika zaman.


Selamat merayakan Hari Wayang Dunia dan Nasional tahun 2026.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd. Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar