Masih terbayang di seluruh ingatan bangsa Indonesia. Presiden pertama Indonesia Soekarno selalu menggaungkan dan menegaskan bahwa peran pemuda sangat signifikan dalam memberikan ruang bertumbuh dan kemajuan bangsa Indonesia ke depanya. Dalam konteks sejarah, Bung Karno melihat bahwa pemuda adalah motor penggerak utama revolusi kemerdekaan.
Mereka tidak banyak dibebani oleh keraguan berlebihan yang kerap menghinggapi generasi yang lebih tua. Sebaliknya, idealismenya yang tinggi membuat mereka berani memimpikan hal-hal yang tampak mustahil dan merealisasikan menjadi realita. Pemikiran visioner ini mengajarkan bahwa usia muda bukanlah kendala untuk berpikir besar, melainkan fondasi utama untuk memulai sebuah lompatan peradaban.
Sebagaimana diketahui kemerdekaan yang dapat dinikmati sampai saat ini bukan sekadar hadiah yang turun dari langit. Perjuangan bangsa Indonesia untuk mengusir kolonialisme dan imperialisme sudah berlangsung sejak ratusan tahun sebelumnya. Sebut saja semangat Adipati Unus yang berani melawan bangsa Portugis adalah salah satu bentuk perlawanan maritim terbesar dari kasultanan Demak untuk mengusir kolonialisme dan mengamankan jalur perdagangan di Nusantara.
Tak kalah heroiknya perlawanan Sultan Agung dari kerajaan Mataram terhadap VOC di Batavia, karena VOC melakukan monopoli perdagangan yang merugikan kaum pribumi dan menghalangi kapal dagang Mataram ke Malaka, serta menolak mengakui kedaulatan. Perlawan berlanjut dari berbagai daerah yang substansinya, tidak sudi tanah air tercinta dikuasai bangsa lain.
Walau perlawanan tersebut belum menunjukkan keberhasilan, namun membuka mata dunia luar, bahwa bangsa Indonesia memiliki harga diri, tidak ingin dijajah bangsa. Atas kuasa dari Yang Maha Kuasa memontum 28 Oktober 1928 menjadi titik balik idealisme dari sekian banyak perjuangan tersebut yang dipelopori oleh para pemuda.
Ikrar para pemuda waktu itu terbilang singkat, padat, langsung pada substansinya. Bangunan dalam ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa menjadi parameter perjuangan yang merujuk pada kebersamaan tekad yang solid. Tentunya realisasinya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Para golongan priyayi, aristokrat atau para bangsawan orang tua para pemuda itu, misalnya tentu ingin anak mereka fasih berkomunikasi seolah lidah seorang meneer dari Leiden. Buat apa mereka sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya harus kembali berkomunikasi dengan bahasa Melayu.
Namun mereka memiliki kebulatan tekad. Berani berikrar harus berani bertanggung jawab. Pernyataan tegas yang hidup di tengah kepungan penguasa kolonialis dan imperialis pada waktu itu memberikan inspirasi dan energi tidak habis-habisnya bagi napas perjuangan di era berikutnya, yaitu terwujudnya bangsa Indonesia yang lepas dari cengkeraman kolonialisme dan imperialisme.
Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tahunnya diharapkan mampu menjadi tonggak baru para pemuda dalam kerangka memantapkan dan mengonsolidasikan langkah-langkah terbaik dan nyata dalam membumikan nilai-nilai kebangsaan sebagai pedoman dalam pola pikir juga pola tindak. Peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) tahun ini dapat menjadi refleksi bagi generasi muda untuk memperkuat persatuan, kepedulian sosial, serta kapasitas diri menghadapi tantangan zaman yang ke depannya semakin dinamis.
Semangat Kebangsaan
Tema yang diusung dalam peringatan HSP tahun ini yaitu Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia. Tema tersebut mengandung makna mendalam terkait dengan semangat kebangsaan, kegigihan dalam perjuangan, serta tidak melupakan napas bela rasa atau kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan.
Tema tersebut dapat dieksplanasikan lebih menyeluruh secara fundamental. Patriotisme menunjukkan wujud cinta tanah air yang tidak pernah luntur. Gigih sebagai manifestasi dari spirit daya juang yang tidak pernah menyerah dalam menghadap berbagai tantangan yang menghadang. Sedangkan empati merupakan kapabilitas dalam merasakan penderitaan sesama.
Tiga kata kunci tersebut, dapat menjadi pemantik bagi seluruh pemuda untuk selalu berdiri tegak dalam memegang prinsip kebangsaan sekaligus memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi. Tentunya tema HSP, tahun ini masih sangat relevan dengan napas lahirnya Sumpah Pemuda di tahun 1928 yang selalu mengedepankan persatuan sebagai prinsip yang sangat hakiki dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada prinsipnya Sumpah Pemuda terdiri atas tiga butir ikrar yang membumi yaitu satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Tiga butir ikrar tersebut menjadi semiotika dari cita-cita nasionalisme dengan pijakan pada aspek kesadaran kolektif yang mendambakan pentingnya persatuan. Karena dengan persatuan ini, ikatan solidaritas dapat terbangun secara simultan.
Adapun kalau dikaji secara lebih mendalam urgensi dari makna Sumpah Pemuda tak lain yakni momentum persatuan dan keberagamaan sebagai bangsa Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika dapat terbangun secara optimal. Api Sumpah Pemuda adalah semangat untuk membangun bangsa serta merawat kemajemukan. Keberagaman suku, agama, dan latar belakang dapat disatukan dalam satu identitas tanpa mengecualikan golongan tertentu (Yudi Latif, 2015).
Spirit Sumpah Pemuda dapat menjadi inspirasi tumbuhnya nasionalisme bagi seluruh warga bangsa untuk meralisasikan kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda bukan sekadar teks sejarah. Momentum tersebut merupakan suatu ide besar yang sangat visioner. Manakala sekat-sekat kedaerahan membatasi ruang gerak mereka, akhirnya dapat cair dengan kebulatan tekad dalam ikrar Sumpah Pemuda tersebut.
Kecerdasan dalam kesanggupan untuk membuka pemikiran dan pemahaman dari kesempitan etnosentrisme menuju keluasan solidaritas kebangsaan itu pada akhirnya berhasil mengantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan yang dapat dinikmati hingga saat ini.
Tantangan Sosial
Tidak bisa dipungkiri, sejatinya nilai-nilai yang terkandung dalam spirit Sumpah Pemuda masih sangat relevan untuk menjawab tantangan sosial dan problematika yang bertumbuh di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan aktualisasinya dapat diimplementasikan melalui berbagai strategi, seperti, membangun kesadaran literasi digital demi tujuan positif, membangun kolaborasi lintas budaya dan interaksi antara individu atau kelompok dengan latar belakang kultural beragam.
Di tengah gencarnya informasi digital saat ini, generasi muda harus mampu memilih dan memilah informasi yang berseliweran di dunia maya. Karena harus disadari, derasnya arus informasi di media sosial juga membawa resiko munculnya hoaks, manipulasi opini, dan polarisasi yang mengancam persatuan.
Indonesia tidak cukup membutuhkan generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu membangun algoritma kebangsaan, menanamkan nilai persatuan, keberagaman, kepentingan nasional dalam elaborasi serta pemanfaatan teknologi. Sumpah Pemuda harus menjadi energi masa depan demi Indonesia yang tangguh dan berdaya saing tinggi.
Selamat merayakan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026.
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang
0 Komentar